Empat Terdakwa Kasus Sollar Cell Dituntut Berat

pasang slot online slot slot gowd

MANADO — Kasus dugaan korupsi penerangan lampu jalan sollar cell, berlanjut di Pengadilan Tipikor Manado, Rabu (21/6) kemarin. Empat terdakwa terkait kasus proyek di Dinas Tata Kota Manado ini, menjalani sidang agenda tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) diketuai Melly Suranta Ginting. PI alias Iwo PI alias Iwo dituntut 5 tahun penjara, dan denda 50 juta rupiah subsidair 6 bulan penjara. Selain itu Iwo dikenakan pengganti kerugian negara sebesar Rp 2,4 miliar. Jika tak diganti, harta benda milik Iwo disita bahkan diganti tiga tahun penjara bila tak mencukupinya. Hal yang sama terjadi kepada AM alias Aryanti, yang dituntut 5 tahun ditambah denda Rp50 juta. Aryanti juga dikenakan ganti rugi uang negara sebesar Rp300 juta, dan harta bendanya disita negara. Jika juga tak menutupi kerugian negara, Aryanti diancam tambahan hukuman 2,5 tahun penjara.

Selain itu, dua ASN yang terlibat juga dihukum. RWH alias Robert, dituntut JPU 5 Tahun penjara ditambah denda Rp50 juta subsidair 6 bulan. LAM alias Lucky, dituntut 4 tahun dan enam bulan ditambah denda Rp50 juta subsidair 6 bulan.

Keempatnya dijerat dengan pasal 3 jo pasal 18 undang undang (UU) nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Tipikor jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Usai mendengar tuntutan tersebut, majelis hakim memberikan waktu kepada keempatnya untuk meyiapkan pembelaan, hingga 2 Juli Mendatang.

Diketahui, proyek ini berbandroil sekitar Rp 9,6 Miliar dilakukan penyelidikan oleh Tipidkor Polda Sulut yang dikomandani AKBP F Gani Siahaan. Terungkap kalau Paulus diduga kuat telah memainkan peran atas serangkaian pelanggaran yang terjadi pada pengadaan proyek lampu solar cell manado bersama-sama dengan Ariyanti, Lucky, dan Robert H Wowor.

Peran Paulus dalam kasus ini turut digambarkan sebagai orang yang mendapatkan informasi pada sekitar Juni 2014 bahwa ada proyek lampu solar cell. Informasi itu didapat Paulus dari saksi PN alias Nelwan. Lalu disebutkan juga kalau Paulus ikut mencari pihak yang mampu mengerjakan proyek lampu solar cell. Dan di titik ini, Nelwan kemudian mempertemukan Paulus dengan Ariyanti. Nah, memasuki pertengahan Agustus 2014, terdakwa Ariyanti kemudian berangkat ke Kota Manado untuk bertemu dengan Kepala Distakot Manado, JBM alias Mailangkay, terdakwa Robert, terdakwa Lucky dan saksi FS alias Fence, guna menawarkan produk lampu solar cell. Jelas pertemuan yang mengarah ke kongkalikong itu, dinilai JPU sangat bertentangan dengan UU RI No 5 Tahun 1999, Perpres No 27 Tahun 2012, serta lampiran Perka LKPP No 6 Tahun 2012.

 

Bukan itu saja, keterlibatan lain dari Paulus yang turut dibeber JPU saat Ariyanti, Lucky dan Robert didakwa bersalah di persidangan, yakni Paulus turut memainkan peran dalam menyiapkan perusahaan yang dipandang memenuhi syarat untuk mengikuti proses pelelangan dengan kompensasi fee 2,5 persen. Dan meminta dan menunjuk terdakwa Ariyanti untuk bertindak selaku kuasa direktur PT Subota Internasional Contractor. Padahal, Ariyanti bukan merupakan pegawai tetap atau pengurus. Hebatnya lagi, untuk memuluskan aksi pidana korupsi ini, Paulus bahkan sempat meminta terdakwa Ariyanti untuk membuka rekening di Bank Sulutgo. Selanjutnya, Paulus mengikat kerja sama dengan terdakwa Ariyanti (selaku Direktur CV Solusi Daya Mandiri) dengan mengutus saksi IN alias Irene selaku General Manajer PT Triofa Perkasa. Dan lagi, dalam dakwaan JPU, Paulus diduga kuat telah berani merubah spesifikasi baterai, yang dalam kontrak harusnya menggunakan baterai 12120 Ah merk Best Solution Batery (BSB). Namun, dirubah menjadi baterai Bulls Power atau BSBp 120 (SNI). Akibatnya, baterai hanya mampu bertahan 3 sampai 6 jam, yang semestinya menyala 10 jam per hari. Dan akhirnya Negara melalui Distakot Manado, telah mengalami kerugian yang menurut perhitungan BPKP Sulut berkisar di angka Rp3 miliar lebih. (air)

 

 

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.