Jelang Pilkada, Wakil Ketua DPC PDIP Sitaro Daftar Balon Bupati di Golkar

SITARO — Fakta menarik terjadi jelang Pilkada Sitaro 2018 mendatang. Betapa tidak, Wakil Ketua DPC PDIP Sitaro, Sisca Salindeho, memutuskan mendaftar sebagai bakal calon bupati di Partai Golkar, Selasa (1/8) kemarin.

Keputusan Srikandi PDIP yang masih menjabat Wakil Bupati Sitaro ini disebut-sebut kian memperjelas bahwa internal moncong putih kini semakin tak kompak.

“Waduhhh, sudah semakin jelas ada keretakan di dalam internal PDIP Sitaro. Langkah sangat berani dari bunda Sisca Salindeho,” tulis pemilik akun Facebook atas nama Edward Wesley, menanggapi postingan foto yang menunjukan Sisca Salindeho selesai mendaftar.

Di foto tersebut Salindeho terlihat menggunakan setelah atasan putih dipadukan dengan celana panjang jeans biru, diapit Ketua Tim Pendaftaran Balon Bupati dan Wakil Bupati Partai Golkar, Erasmus Kalangit bersama tim sekretariatan. Sementara itu, beberapa pemerhati saat dimintai tanggapan mereka terkait hal ini mengemukakan pendapat beragam.

Tokoh Muda Tagulandang, Rocky Marciano Ambar misalnya, dalam pernyataannya ia mengatakan, pendaftaran  Sisca Salindeho yang notabene adalah Wakil Ketua DPC PDIP Sitaro ke Partai Golkar, pada prinsipnya sah-sah saja.

“Masing-masing kita punya hak berpolitik dan dilindungi oleh undang-undang, sehingga saya kira, tidak ada yang salah dengan langkah Ibu Sisca,” kata jebolan Fakultas Hukum Unsrat ini.

Selain itu, kata dia, Partai Golkar juga memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapa saja yang ingin membangun Sitaro lewat pertarungan di Pilkada 2018 mendatang.

“Kalau memang memenuhi syarat untuk diusung lewat partai Golkar, why not?” urainya.

Meski demikian, ia juga tidak menampik jika langkah eks legislator PDIP ini patut dipertanyakan.

“Pertanyaannya adalah kenapa sebagai kader PDIP harus mendaftar di partai Golkar? Ada apa dengan internal DPC PDIP,” serunya.

Sehubungan dengan tanda tanya itu, menurutnya pendaftaran Salindeho mengambarkan ada sesuatu di internal DPC PDIP Sitaro, dan hal ini sudah direstui oleh para petinggi partai PDIP.

“Apakah ini merupakan strategi PDIP untuk kembali mendulang kemenangan layaknya Pilkada Sangihe, yang ujung-ujungnya tetap kader PDIP yang diusung walaupun melalui kendaraan lain?” sebutnya.

Bahkan dikatakannya, apabila partai Golkar benar-benar mengusung Salindeho sebagai calon bupati, ini bukti bawah strategi PDIP lebih jitu ketimbang Golkar.

“Pendaftaran ibu siska ini bagian dari jilid dua lanjutan Pilkada Sangihe, dan sudah dapat dipastikan isu yang akan diangkat tetap menggiring kondisi politik sangihe sebagai salah satu nilai jual  dengan judul ‘Kisah Anak yang Terbuang’,” tambahnya.

Terpisah, Tokoh Muda Siau Utara, Jolly Horonis mengungkapkan, keputusan Salindeho ‘menyeberang’ ke Beringing (Baca: Golkar), merupakan sikap terburu-terburu.

“Terlalu cepat ambil keputusan,” ujar Horonis. Nantinya, sambung akademisi ini, dinilai tidak teruji sebagai kader banteng.

“Kecuali memang dibuang, itu akan jadi lain cerita di masyarakat,” terangnya.

Disinggung soal dampaknya negatifnya terhadap kubu moncong putih, Horonis menyebutkan, sangat kecil.

“Saya kira dampaknya kecil karena keputusan meninggalkan banteng adalah keinginannya sendiri,” kuncinya.

Sementara itu, Ketua DPD PDIP Sulut, Olly Dondokambey, saat dimintai tanggapannya soal keputusan Salindeho, mengaku tidak mempersoalkan hal itu.

“Sah-sah saja. itu hak seseorang dan kita tidak bisa melarangnya,” ujar Dondokambey.

Namun, sambung dia, jika sudah ada penetapan, dan yang bersangkutan melanggar ataupun tidak mendukung keputusan tersebut, pasti akan ditindak tegas.

“Kita (PDIP, red) punya aturan, dan siapa yang melanggar, sudah tentu ada konsekwensinya,” tegas orang nomor satu di Sulut itu.

Berbeda dengan Olly yang terlihat legowo, sejumlah kader moncong putih justru menyayangkan keputusan Salindeho merapat ke Golkar.

“Selaku salah satu kader terbaik partai, tak sepatutnya Ibu Siska melakukan hal itu,” ungkap salah satu kader sembari meminta namanya tak mempublis.

Sekedar diketahui, Golkar Sitaro telah melakukan penjaringan internal dan eksternal terhadap sejumlah bakal calon bupati serta wakil bupati (lihat grafis).

Terkait proses penjaringan hingga penentuan siapa yang akan diusung nantinya, menurut Ketua Panitia, Erasmus Kalangit, merupakan kewenangan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

“Kita hanya melakukan proses mulai dari pendaftaran hingga penjaringan. Keputusannya adalah ranah pimpinan pusat,” terangnya. (gus/ein)

Hasil Penjaringan:

Eksternal:

Jotje Luntungan                   7

Krets Mamondole                5

Richard Kainage                  61

Ronald Takarendehang     23

Jhony Tamus                        0

Adolvien Wangania            4

Jutixel Rudolf Parera         3

Sisca Salindeho                    10

 

Internal                       

Zeth Papona                         13

Ritmon Takasili                   10

Selmina Papuas                    11

Hironimus Makainas          53

Piethein Kuera                     30

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.