Mapanawang: Jurnal Dari Desa Mengguncang Dunia

MANADO – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Halmahera berhasil menerbitkan Internasional Jurnal Of Health Medicine and Curent Research (IJHMCR). Ketua STIKES Halmahera Dr dr Arend Laurence Mapanawang Sp.PD finasim menuturkan, telah hadir journal internasional kesehatan kedokteran di Indonesia. Katanya pul, walaupun IJHMCR baru beberapa hari, tetapi telah terinde oleh Thomdon Reuter esci web of science.

“Jurnal intrnasional dengan area subjek kesehatan kedokteran dan perawat bidan farmasi kesehatan olahraga herbal marine dan kesehatan makanan ini merupakan hasil perjuangan keras. Serta lahirnya IJHMCR tidak terlepas dari beberapa ex promotor desertasi di Universitas Gadja Mada (UGM). Di antaranya Prof dr Mubarikha mantan ketua S3 FK UGM, Prof Mustofa Apt MKes, Prof Lukman Hakim MSc, Dr dr Mahardika AW dan Dr Rina Handayani MKes,” ungkap Mapanawang, putra peranakan Loloda-Talaud, Senin (12/6/17).

Lanjut alumni Fakultas Kedokteran (Faked) Unsrat spesialis penyakit dalam ini, tak terduga thomson reuter index meregister journal IJHMCR temuan dari STIKES Halmahera. Karena, jurnal ini pertama di Indonesia yaitu terkait kesehatan kedokteran.

“Memiliki kebanggan tersendiri karena baru 12 Perguruan Tinggi (PT) yang journalnya terindex Thomson Reuter dan juga scopus di Indonesia. Seperi Universitas Indonesia (UI), ITB, UGM, IPB, UNPAD, AIRLANGGA, UNS dan termasuk STIKES Halmahera,” jelas Alumni S3 Kedokteran Kesehstan FK UGM tersebut.

Dia pun mengungkapkan, IJHMCR adalah satu-satunya journal internasional di bidang kesehetan kedokteran yang masuk dalam data list Thomson Reuter.

“Saya bangga, karena berada di antara jurnal – jurnal Eropa dan USA. Walaupun baru tiga kali terbit, tapi sudah dapat pengakuan dunia. Semoga dapat dipertahankan,” ungkap Mapawanang, sembari menambahkan satu keunikan IJHMCR memiliki editor board mewakili lima benua dan tidak dimiliki jurnal-jurnal lain.

Selain itu, menjadi persyaratan utama dosen wajib riset dan publikasi pada jurnal internasional. Lanjutnya, terutama yang dari lektor ke lektor kepala dan ke guru besar. Mereka harus ada publikasi pada jurnal yang terindex diakui Dikti. Seperti di Thomsin Reuter dan Scopus.

“Tidak perlu menjadi kelas dunia, tapi minimal dikenal dunia,” tandas Mapanawang yang dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi. (trs)

 

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.