Melihat Pariwisata di Indonesia Khususnya di Kabupaten Kepulauan SITARO

Penulis:
Vania Verina Tamaka
Mahasiswa UNIKA DELA SALLE Manado

PARIWISATA merupakan satu-satunya aset yang dimiliki Indonesia saat ini dan diyakini punya prospek menjanjikan dalam menopang perekonomian nasional jangka panjang.

Bukan tanpa alasan, sebagaimana diketahui bersama bahwa sumber daya alam yang menjadi penyangga ekonomi kita sudah banyak tergerus.
Oleh karena itu, diperlukan inovasi baru guna menjaga eksistensi serta stabilitas ekonomi di masa mendatang.

Nah, yang paling menjanjikan ialah pengembangan sektor pariwisata. Hal ini sebagaimana dilakukan pemerintah pusat di bawah komando Presiden Ir Joko Widodo saat ini.

Sirkuit Mandalika di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi contoh nyata. Kemudian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Likupang, di Minahasa Utara (MINUT).

Namun, sangat disayangkan gerak cepat pemerintah pusat mengembangkan setiap potensi pariwisata, belum seirama dengan yang diperlihatkan oleh sejumlah pemerintah daerah.

Pemerintah daerah terkesan kaku berinovasi, sehingga yang terjadi ialah copy paste program tanpa kreativitas. Dan hasilnya sudah barang tentu bisa ditebak, yakni euforia sehari, mati selamanya.

Nah, kondisi seperti ini juga terlihat di Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (SITARO), yang terletak di Sulawesi Utara (SULUT).

Kabupaten yang dijuluki dengan Negeri 47 Pulau ini sebenarnya menyimpan sejuta pesona. Hebatnya lagi, bukan hanya di darat, surga bawah lautnya pun tak kalah mempesona.

Ada Gunung Karangetang di pulau Siau yang merupakan salah satu gunung api aktif di dunia. Tempat permandian air panas di laut tepatnya di kampung Mini, Kecamatan Siau Barat Utara, yang dikenal dengan nama Temboko.

Ada juga Gunung Ruang di pulau Tagulandang, yang bisa dijadikan magnet untuk wisatawan lokal maupun manca negara dalam hal wisata pendakian.

Belum lagi pesona danau cinta di pulau Makalehi dan misteri puluhan tengkorak di dalam gua dengan ‘tiket masuk’ rokok.

Tak ketinggalan juga sejuta pesona di tanah Kolo-kolo (sebutan lain untuk pulau Biaro) yang alam bawah lautnya menurut sejumlah wisatawan tak kalah bersaing dengan Taman Laut Bunaken.

Tentunya ini merupakan modal berharga untuk Kabupaten Kepulauan SITARO yang juga dikenal sebagai penghasil pala kualitas terbaik alias nomor 1 di dunia ini.

Memang beragam terobosan telah dilakukan pemerintah daerah, hanya saja harus diakui bahwa masih ada kekurangan-kekurangan yang perlu dievaluasi dan dibenahi.

Satu di antaranya adalah promosi pariwisata. Sejauh ini strategi yang digunakan Pemda SITARO masih menggunakan gaya lama yakni leaflet, brosur, serta pameran-pameran pembangunan baik yang diselenggarakan di tingkat lokal maupun provinsi.

Upaya ‘menjual’ daerah melalui internet dalam hal ini website, media sosial dan sejenisnya masih sulit diwujudkan lantaran tidak ditunjang oleh ketersediaan jaringan internet memadai.

Padahal ini merupakan salah satu pintu masuk terbaik ke pasar wisata yang lebih besar dan luas.

Belum lagi kendala lainnya yakni kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) di bidang kepariwisataan yang masih minim. Ditambah juga kualitas human resources yang belum sesuai dengan apa yang diharapkan yakni the right man and the right place.

Dan kesemuanya ini bermuara pada miskinnya inovasi. Minimnya inovasi ini menghasilkan daya tarik wisata yang kurang dan pelestarian kawasan destinasi tidak maksimal. Bahkan, objek wisata budaya dan sejarah yang mestinya punya daya jual sebagaimana Bali lakukan, nyaris luput dari garapan.

Nah, berkaca dari potret pariwisata yang tersaji saat ini, pemerintah daerah perlu tancap gas lagi.

Evaluasi setiap lini dimulai dari orang-orang yang menjadi motor penggerak, program hingga strategi yang dibuat harus segera dilakukan. Termasuk juga menginventarisir aset-aset pariwisata yang bukan hanya memiliki nilai historis namun juga berpotensi ekonomis.

Di samping itu, menciptakan sinergitas yang kuat antar stakeholder holder khususnya dalam hal membangun sektor pariwisata.

Dengan kata lain, tidak membiarkan instansi teknis dalam hal ini Dinas Pariwisata melakukan aksi one man show atau solo run.

Selanjutnya, planning (perencanaan) dan action (tindakan) hingga regulasi atau peraturan harus seirama dengan tetap mengacu pada program yang telah dibuat.

Tidak kalah penting juga memperluas kerja sama dengan penggiat-penggiat pariwisata misalnya tour and travel.

Akhir kata, semua harus berangkat dari Sense of Belonging atau rasa memiliki. Tanpa ini, sehebat apapun programnya, secerdas apapun motor penggeraknya, tetap hasilnya tidak akan maksimal.

Dengan adanya rasa memiliki yang tentunya pertama-tama harus ditunjukkan oleh pemerintah daerah selaku eksekutor, maka saya yakin beragam inovasi akan lahir dan terus lahir.

Kemudian, bisa dipastikan secara perlahan masyarakat pun akan turut terlibat membangun pariwisata. (*)

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.