Populasi Pemicu Rabies di Sitaro Meningkat, Korbannya Rata-rata 20 Per Bulan

SITARO — Tanda awas bagi warga Sitaro, khususnya terkait teror virus rabies. Pasanya, informasi yang dihimpun Indo Post, populasi anjing yang merupakan salah satu hewan pemicu rabies meningkat.

Hasil pendataan 2016, jumlah anjing di kabupaten 47 pulau nyaris menyentuh angka 17.000 ekor. Hal ini turut dibenarkan Kadis Pangan dan Pertanian Sitaro, Ir James Makasenda.

Namun demikian, birokrat berdarah Mandolokang ini mengatakan, meski ada peningkatan populasi, namun masyarakat jangan terlalu kuatir. Karena program vaksinasi terus dilakukan secara intens.

“Petugas vaksin sudah turun lapangan dan sudah lebih dari 75 persen anjing di Sitaro telah divaksin,” kata Makasenda.

Meski begitu, ia juga meminta warga pro aktif mendukung tim dalam melakukan vaksinasi.

“Ketika ada anjing yang belum disuntik, langsung dikomunikasikan dengan petugas. Atau bisa juga melapor kepada pemerintah wilayah, nanti mereka sampaikan kepada kita,” sebutnya.

Ia juga menambahkan, pihaknya juga telah mencanangkan vaksinasi rabies massal beberapa waktu lalu sebagai bagian dari menunju Sitaro Bebas Rabies.

“Program itu juga merupakan bagian dari menangkal rabies,” terangnya sembari menyebutkan, penyakit rabies tidak semata-mata disebabkan oleh gigitan anjing.

“Kucing juga merupakan salah satu hewan pemicu rabies,” tuturnya.

Disinggung soal kasus gigitan, ia menyebutkan, di tahun berjalan ini (2017, red), ada dua orang yang menjadi korban, namun tidak meninggal karena anjingnya sudah divaksin. “Kita berharap semoga tidak ada lagi,” harapnya.

Sementara itu, Tokoh Muda Siau Timur, Niczem Wengen SH, mengatakan, pertumbuhan populasi anjing seakan sulit dibendung, ia meminta agar Makasenda cs tetap sigap.

“Koordinasi dengan pemerintah wilayah sehubungan dengan keberadaan anjing juga perlu tetap dilakukan, mengingat hampir setiap bulan ada ketambahan populasi,” pintanya.

Kepada warga, ia berharap untuk tidak bermasa bodoh. Sebaliknya, langsung melapor ketika ada ketambahan anjing.

“Jangan nanti sudah makan korban baru buru-buru mengambil tindakan,” tegas jebolan Fakultas Hukum Unsrat ini. (gus)

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.