Revitalisasi Sungai Tondano Lamban Karena Lahan

MANADO — Proyek revitalisasi Sungai Tondano yang dibiayai hibah JICA (Japan Indonesian Cooperation Agency) sudah mulai nampak hasilnya, meski berjalan lamban. Persoalan lahan jadi kendala utama.

“Masih banyak lokasi yang belum boleh dikerjakan karena lahannya belum dibebaskan,” kata Kepala SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) 1 Sulut, Melchior Langitan kepada Indo Post.

Yang sudah ada pekerjaan saat ini, tambah Langitan, adalah lokasi yang lahannya sudah terbayar 2015 dan 2016 lalu. “Kasihan juga kontraktor karena mereka dikejar waktu kontrak, sementara lahan untuk pekerjaan tidak ada,” tambahnya.

Soal masalah ini, Kepala BWSS 1 Djidon Watania mengatakan dia telah mengakui ke pimpinan di Kementerian PUPR (Dirjen SDA dan Menteri PUPR) bahwa ini adalah kesalahannya. “Sejak pertengahan 2016 saya sudah menghadap langsung kepada Pak Menteri dan Pak Dirjen, dan memohon agar proyek itu harus dilanjutkan sampai selesai sesuai kontrak. Makanya, sejak 2016 Kementerian PUPR dan Kemenkeu menyetujui pembebasan lahan ditangani APBN,” ujar Watania.

Djidon juga mengemukakan kekecewaannya kepada Pemkot Manado yang dinilai tidak komit dengan janjinya untuk membebaskan lahan. Bukan hanya itu, ‘pengamanan’ lahan yang akan dibebaskan—meskipun dananya sudah ditanggulangi APBN—juga kurang didukung.

“Kalau mungkin benar-benar serius mendukung, pastinya pembebasan lahannya tidak serumit dan berlarut-larut seperti ini. Toh, APBN sudah bersedia membayarnya,” ujar Djidon.

Saat ini, tambah Langitan, sisa anggaran 2016 masih ada Rp11 miliar, dan 2017 ini ada tambahan Rp44 miliar. “Dan diusahakan tahun ini pembebasan sisa lahan dan bangunan selesai. Sedang dalam proses penafsiran harga oleh Tim Appraisal,” katanya.

Hanya saja, tambahnya, kendala lama masih membentang. “Ada 2 persoalan. Yakni, warga yang tidak mau memberikan lahannya dan yang merasa harganya kecil. Nah, kalau itu kami serahkan ke Pengadilan, karena yang menghitungnya adalah Tim Appraisal,” ujar Langitan.

Dan, kendala terbaru adalah di salah satu daerah ada jalan yang ditutup warga, dengan alasan bahwa itu tanah mereka yang bersertifikat. “Kontraktor diminta membayar 500 ribu per hari kalau lewat jalan itu. Aneh saja, sih, kok jalan ada sertifikat hak milik,” kata Langitan, heran.(baz)

 

NAMA PROYEK

Urban Flood Control System Improvement in Selected Cities (Manado Sub Project), Paket 6A dan 6B.

Sumber dana: Pinjaman JICA

Lebar dasar sungai: 30 Meter

Lebar sungai dengan tanggul: 35,5 meter

Batas waktu: Juli 2017

 

 

SEGMEN 6A

Panjang:       800 Meter

Ruas:              Jembatan Megawati – Jembatan Mahakam

Pelaksana:    PT Brantas Abipraya (Persero)

Kontrak:        Rp61.280.311.540

Waktu Pekerjaan: 450 Hari

Kontrak: 4 Maret 2016

 

SEGMEN 6B

Panjang: 900 Meter

Ruas: Jembatan Mahakam – Pertemuan Sungai Tondano-Sungai Tikala

Pelaksana: PT Basuki Rahmanta Putra

Kontrak: Rp75.661.219.429

Waktu Pekerjaan: 450 Hari

Kontrak: 4 Maret 2016

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.