Sangihe-Talaud Siaga ISIS, TNI dan Polisi Patroli Laut

pasang slot online slot slot gowd

 

Militan Bunuh 19 Warga Sipil Filipina

Tentara Filipina siap siaga lawan ISIS

MANADO – Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), siaga kelompok teroris ISIS dari Filipina. Betapa tidak, sejak Marawi, Filipina Selatan dikuasai ISIS, Indonesia bersikap memperketat pengamanan di perbatasan. Apalagi, jarak antara Marawi dengan Indonesia paling dekat berjarak 5 jam perjalanan. Yakni, melalui Miangas, Maroreh dan Kepulauan Indonesia terluar di bagian utata.

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan kesiapannya untuk menghalau mereka. Dia pun menyiapkan patroli bahkan dari laut.

“Jadi TNI dan Kepolisian (bekerja sama) ya. TNI melakukan patroli semacam dari Maluku Utara, sampai ke Sulawesi. Itu patroli laut,” kata Jenderal Gatot di Jakarta Pusat, Minggu (28/5).

Lanjut mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini, kerja sama lain dengan pihak Polri. Yakni melakukan penjagaan di sepanjang pantai yang rawan disusupi.

“Kemudian di daratnya, bersama-sama kepolisian, patroli sepanjang pantai, supaya tidak ada penyusupan,” ungkapnya.

Dia pula menegaskan TNI dan Polri akan langsung menindak keras teroris yang hendak menyusup itu.

“Ya ditangkap. Ya tangkap saja,” tuturnya.

Di sisi lain, terdapat 11 WNI diduga terlibat dalam insiden di Marawi City, Filipina. Dalam pesan yang tersebar, Pos Polairud Polda Sulawesi Utara (Sulut) dan pegawai Kantor Imigrasi kelas II Bitung mendapat informasi 11 orang WNI berada di kota tersebut. Mereka adalah, DP (Bandung), H (Bandung), SRY (Bandung), HE (Karawang), AW (Bandung), AS (Tasikmalaya), WS (Tasikmalaya), DS (Bandung), AS (Bandung), WG (Kendari), dan YB (Jakarta).

Kapolda Sulut Irjen Pol Bambang Waskito melalui Kabid Humas Kombes Pol Ibrahim Tompo menjelaskan, 11 orang tersebut tidak terkait insiden di Marawi.

“Berdasarkan hasil penelusuran KJRI (Konsulat Jenderal Repbulik Indonesia), mereka masih dikategorikan orang-orang baik,” ujarnya.

“Mereka adalah orang-orang Indonesia asal bandung dengan tujuan dakwah, dan masih dalam upaya KBRI mengevakuasi,” tambahnya.

Lanjut Tompo, saat ini 11 WNI sementara berada masjid Abu Bakar Assiddik.

“Mereka hidup seperti layaknya kita, tidak ikut campur urusan ISIS atu teroris. 10 paspor mereka yang beredar di media sosial dan menyatakan mereka ISIS, info semacam itu tidak benar,” pungkasnya.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan menyampaikan aksi teror Kampung Melayu diduga kuat dilakukan oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS.

“Serangan teror bom di Kampung Melayu merupakan bagian dari strategi ISIS untuk menunjukkan eksistensinya setelah mendapatkan tekanan di Suriah,” kata Budi.

Budi menunjukkan dalam waktu yang bersamaan, ISIS melakukan aksi di berbagai lokasi, mulai dari serangan di Manchester, Inggris. Kemudian Marawi, Filipina selatan, dan Kampung Melayu, Indonesia.

“Hal ini menunjukkan ISIS telah membangun jaringan secara global dan selama ini membentuk sel-sel jaringan di berbagai negara yang siap untuk dikomando melakukan serangan di berbagai tempat yang mereka targetkan,” ujar Budi.

Diketahui, kelompok militan di kota Marawi dikabarkan telah membunuh 19 warga sipil. Dengan demikian, jumlah korban meninggal sejak konflik di Marawi yang berlangsung nyaris satu pekan mencapai 85 orang.

Kekerasan yang pecah di Marawi telah mendorong Presiden Rodrigo Duterte menetapkan darurat militer di sepertiga bagian selatan Filipina pada 23 Mei lalu. Menurutnya, langkah tersebut guna menumpas ancaman militan yang berafiliasi dengan ISIS.

Seperti dilansir The Guardian, Minggu (28/5) pihak berwenang mengatakan, di antara 19 warga sipil yang dibunuh terdapat tiga perempuan dan seorang anak. Mereka ditemukan tewas di dekat sebuah universitas.

“Ini adalah warga sipil, perempuan. Para teroris ini anti-manusia. Kami menemukan jasad mereka ketika melakukan operasi penyelamatan,” ungkap juru bicara militer regional Letnan Kolonel Jo-ar Herrera.

Seorang fotografer Agence France-Presse mengatakan, ia melihat delapan jasad lainnya di jalan di pinggiran Marawi pada Minggu. Penduduk setempat mengidentifikasi mereka sebagai pekerja penggilingan padi dan seorang lainnya sebagai mahasiswa kedokteran.

Herrera mengatakan, belum ada penyelidikan atas laporan temuan jasad tersebut.

Kekerasan di Marawi pecah saat puluhan anggota kelompok militan menyerbu kota itu setelah aparat keamanan berusaha menangkap Isnilon Hapilon, seorang veteran militan Filipina yang diyakini sebagai pemimpin ISIS di kawasan itu.

Segera setelahnya, bendera hitam ISIS berkibar dan kelompok militan dilaporkan menculik seorang pendeta dan 14 jemaat gereja. Mereka juga membakar sejumlah bangunan.

Dari total 85 korban tewas, terdapat 51 anggota kelompok militan dan 13 tentara. Sementara itu, sebagian besar penduduk Marawi memutuskan mengungsi.

“Penolakan mereka untuk menyerah membuat kota tersandera. Oleh karena itu, semakin penting untuk menggunakan lebih banyak serangan udara demi membersihkan kota dan mengakhiri pemberontakan ini,” terang juru bicara militer Brigadir Jenderal Restituto Padilla.

Presiden Duterte dan pimpinan militer mengatakan, sebagian besar militan berasal dari kelompok Maute yang diperkirakan memiliki sekitar 260 pengikut. Maute telah berikrar setia kepada ISIS. Duterte menambahkan, penjahat lokal juga turut mendukung kelompok Maute di Marawi. (tim/zly)

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.