Selamatkan UKIT Tomohon, Begini Penjelasan BPMS Sinode GMIM dan Yayasan

TOMOHON — Sanksi dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terhadap Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) untuk tidak menerima mahasiswa baru membuat orang tua dan calon mahasiswa baru. Mereka pun mendatangi kantor sinode GMIM untuk mempertanyakan nasib anak-anak mereka Senin (17/7) kemarin.

Awalnya ratusan orang yang terdiri orang tua dan calon maba tidak diperkenankan masuk. Namun akhirnya Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM dan yayasan bersedia untuk berdiskusi dengan orang tua dan calon maba di Aula Lantai 3 Kantor Sinode. Orang tua calon maba meminta agar persoalan UKIT dapat segera diselesaikan. “Marilah semua pihak baik BPMS, Yayasan dan Rektorat UKIT untuk menahan diri demi masa depan anak-anak kami,” kata Pnt Herni Monium.

Dia mengatakan, masa depan anak-anak harus diselamatkan. Mereka punya harapan untuk menjadi hamba Tuhan sebagai seorang pendeta. “Jangan pupus cita-cita mereka. Ada ratusan calon maba yang ingin kuliah di Teologi namun tidak bisa diterima,” sesal Monium.

Senada disampaikan Tineke Kalesaran. Ia menuturkan, anaknya memiliki kerinduan untuk menjadi pendeta hingga memilih untuk kuliah di Fakultas Teologi. “Dia tidak mau kuliah di jurusan yang lain. Banyak waktu yang akan terbuang untuk mencari universitas yang lain,”ungkapnya.

Ia mengatakan, para orang tua tidak mempersoalkan siapa pun Rektor UKIT yang penting anak kami boleh diterima. “Kami ingin mempertanyakan status UKIT saat ini seperti apa. Rektor mana yang sah dan bisa melaksanakan perkuliahan,”katanya.

Ketua BPMS Sinode GMIM Pdt DR HWB Sumakul mengatakan, persoalan UKIT sudah dibahas bersama BPMS dan Yayasan. “Memang ada masalah yang harus diselesaikan namun tidak bisa disampaikan pada forum ini masalah tersebut,”kata Sumakul.

Lanjutnya, persoalan mahasiswa baru ini dapat dituntaskan. “Kami berupaya agar dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Tapi belum saat ini,” jelas Sumakul.

Dia menjelaskan, sesuai aturan, untuk proses teknis penyelenggaraan pendidikan merupakan kewenangan yayasan. “BPMS tidak bisa turun langsung dalam proses pendidikan di UKIT karena ada Yayasan,”jelas Sumakul.

Ketua Yayasan Ds AZR Wenas Pdt Hans Sumakul mengatakan, yayasan memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan perkuliahan di UKIT. “Pergantian Rektor menjadi kewenangan yayasan bukan Kemenristekdikti,”katanya.

Ia menambahkan, pihaknya akan mengakomodir keluhan dan aspirasi dari orang tua dan calon maba. “Kami belum bisa putuskan saat ini. Namun silahkan orang tua memasukan nama calon maba untuk dilakukan pendataan dan nama-nama akan dibawa ke Kemenristekdikti dan Kopertis wilayah IX. Nanti keputusan pads tanggal 28 Juli mendatang,”kuncinya.

Rektor UKIT Yoppie Pangemanan SPD MM menyanyangkan sikap dari BPMS dan Yayasan Ds AZR Wenas. “BPMS dan yayasan melanggar surat dari Kemenristekdikti untuk tidak melakukan penerimaan mahasiswa baru bahkan menerima pendaftaran di kantor sinode bukan di kampus,”kata Pangemanan.

Ia menuturkan, pihaknya tidak melakukan penerimaan mahasiswa baru sebagai bentuk ketaatan terhadap aturan. “Berarti Yayasan mengingingkan UKIT hancur karena tidak menghiraukan sanksi yang diberikan oleh Kemenristekdikti,” sesal Pangemanan.

Diketahui, Yayasan Ds AZR Wenas sudah empat kali mengeluarkan SK pemberhentian kepada Yopie Pangemanan. Selanjutnya mengangkat Ir Sandra Korua sebagai Plt Rektor. (elk)

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.