Seruan Bupati ‘Tau Siau’ Kian Menguat

SITARO — Menjelang perhelatan Pilkada Sitaro 2018, beragam seruan politik terus dikumandangkan warga. Salah satu yang tidak kalah menarik yang berhasil direkam yakni seruan yang menggambarkan hasrat sejumlah warga Karangetang akan hadirnya sosok bupati dari daratan Siau. Setelah ditelusuri lebih jauh, alasan utama mereka mengumandangkan seruan tersebut adalah lantaran sudah dua periode DL 1 C dikuasai non Siau.

“Sudah saatnya orang Siau yang jadi bupati,” ungkap beberapa warga ketika dimintai tanggapan oleh harian ini. Bahkan, mereka berpendapat jika orang Siau yang jadi bupati maka geliat pembangunan akan semakin terlihat.

“Kalau orang luar, paling dalam satu bulan bisa terhitung berapa hari dia ada di Siau,” sebut mereka.

Disatu sisi, mereka juga berpendapat, yang benar-benar memahami keinginan warga Siau serta kemana arah pembangunannya hanyalah putra daerah (Orang Siau). Bahkan, pada kesempatan itu, mereka juga ikut menyebutkan beberapa nama Balon berdarah Karangetang yang dianggap layak menjadi orang nomor satu di Kabupaten 47 pulau.

Sementara itu, pantauan harian ini, seruan tersebut sepertinya menjadi santapan empuk beberapa Balon berdarah Karangetang, salah satunya politisi PDI Perjuangan Bob Nover Janis. Terbukti, Balon Bupati berlatar belakang pengusaha ini langsung mengusung jargon Mapiang Tau Siau-Mapiang Ese (Lebih baik orang Siau-Lebih baik laki-laki).

Terkait semakin menguatnya keinginan sejumlah warga Karangetang akan sosok bupati dari Siau, Ketua Forum Komunikasi Generasi Muda Nusa Utara, Rocky Marsiano Ambar mengatakan, itu sah-sah saja. Dituturkannya, dalam UU Nomor 10 Tahun 2016 dan PKPU No 3 Tahun 2017, menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama, dimana dapat mencalonkan diri atau dicalonkan.

“Dalam artian, pencalonan sebagai kepala daerah tidak dibatasi pada ras, gender, warna kulit, etnis serta agama, selama itu tidak bertentangan dengan aturan hukum,” beber Ambar.

Tidak hanya itu, disebutkannya pula, Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 dengan tegas memberikan jaminan adanya persamaan kedudukan. “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya,” urainya.

Oleh karena itu, ia berharap seruan ‘Mapiang Tau Siau’ janganlah dipolemikkan atau bakhan diplintir ke hal-hal yang bisa menimbulkan gesekkan. “Itu harus dimaklumi, karena itu juga merupakan wujud dari hak berdemokrasi setiap orang,” ujar akademisi berdarah Mandolokang ini.

Ia juga berharap seruan tersebut tidak dijadikan bahan black campaign (Kampanye Hitam) atau dipolitisasi sehingga menodai suara aspirasi murni dari masyarakat. “Sebaliknya, mari kita sambut pesta demokasi secara cerdas dan sehat. Dalam artian, pelaksanaan pilkada nanti dapat dilaksanakan secara bersi, jujur dan adil,” tandasnya.

Senada, Tokoh Pemuda Siau Utara, Jolly Horonis mengatakan, kalau ada warga Siau yang berpendapat demikian, itu bukanlah suatu haram hukumnya di Pilkada. Namun demikian, dirinya menegaskan bahwa dalam berdemokrasi, semua warga punya hak yang sama.

“Tidak elok kalau untuk Jakarta (Ahok, red) kita menolak prilaku kesukuan, dan tiba-tiba untuk Sitaro kita berlaku demikian. Tagulandang, Biaro, Makalehi atau pulau mana di negeri 47 pulau ini, semua punya hak yang sama,” tegas pria dengan latar belakang akademisi ini.

Di satu sisi, ia mengimbau, jika warga Siau ingin pemimpin dari Siau, maka silakan ajukan calon asal Siau yang hebat yang bisa dipercaya membawa perubahan Sitaro ke depan tanpa menghalangi atau membatasi hak dari warga yang asal dari pulau lain.

“Kedewasaan dalam demokrasi perlu ditanam sejak dini kepada setiap warga di Sitaro. Mari berlomba berkampanye yang positif. Torang Satu. Sitaro,” serunya.

Adapun beberapa bakal calon bupati dari Tanah Karangetang yang belakangan muncul di antaranya Alfrets Ronald Takarendehang, Bob Nover Janis, Helfried Lombo, Piethein Kuera, Sisca Salindeho dan AAB Maliogha. (ein)

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.