Soal Cap Tikus, Warga Minsel Tanggapi Imbauan Gubernur

 

AMURANG—Imbauan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey SE, yang meminta petani untuk tidak membuat atau memproduksi minuman beralkohol khas daerah yakni Cap Tikus,  dan beralih ke petani gula aren menuai berbagai tanggapan miring dari sejumlah masyarakat.

Dalam sejumlah status di akun FB, warga mengatakan jika produksi Cap Tikus diberhentikan akan banyak siswa  bakal putus sekolah. Ada juga yang memberi tanggapan bahwa dengan dihentikannya produksi Cap Tikus, sangat berpotensi bertambahnya jumlah pengangguran.

“Banyak siswa putus sekolah di Desa Wuwuk kalo bagini. Kong bagaimana katu orang kampung pe pancarian kaseh sekolah anak (Bagaimana nasip masyarakat pedesaan untuk mencari biaya sekolah anak),” tulis Mariano Kani dan Conny Sarayar dalam status FB.

Sementara itu, Berti dan  Nus serta sejumlah petani Cap Tikus lainnya yang berhasil diwawancarai Indo Post, mengaku menolak keras imbauan tersebut. Sebab menurut mereka Cap Tikus bukanlah menjadi sumber utama terjadinya berbagai kasus kejahatan di wilayah Sulawesi Utara, melainkan karena faktor manusianya.

“Apakah ada jaminan dari pemerintah kalau produksi Cap Tikus dihentikan maka daerah kita Sulawesi Utara, akan aman dari berbagai jenis kejahatan, kan tidak. Buktinya didaerah-daerah lain yang meski tidak memproduksi minuman beralkohol, justru angka kejahatan masih lebih para. Jadi saran kami dari masyarakat kecil buat pemerintah, agar lebih bijak dalam membuat pernyataan atau mengeluarkan larangan yang menyangkut Cap Tikus. Karena jujur kami katakan bahwa hasil dari produksi Cap Tikus sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup termasuk biaya pendidikan anak. Bahkan ada petani yang menyumbangkan hasil dari penjualan Cap tikus untuk pembangunan tempat ibadah serta kegiatan sosial kemanusiaan lainnya,” jelas mereka. (jem)

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.