Tak Ada Angkot, Tarif Kotabunan-Tutuyan Melonjak

pasang slot online slot slot gowd

BOLTIM—Walaupun hanya menempuh jarak 5-12 menit perjalanan, namun masyarakat harus mengeluarkan biaya transpor sebesar Rp50 ribu untuk bolak-balik di Kotabunan-Tutuyan. Pasalnya, pemerintah belum menyiapkan pengoperasian angkutan kota (Angko) trayek tersebut. “Biasanya untuk bolak-balik Tutuyan-Kotabunan kami harus mengeluarkan dana sebesar Rp50 ribu untuk biaya bentor (becak motor),” ungkap Rudianto Hasan (46) warga Bulawan II.

Ia mengungkapkan, penyebab melonjaknya harga transpor di daerah tersebut karena tidak ada angkutan kota. Ironisnya dikatakan, Hasan jarak tempuh Tutuyan-Kotabunan hanya 5-12 menit. “Tiap hari saya bolak-balik di kedua daerah tersebut untuk menjual obat. Namun biaya transpor sangatlah besar sehingga keuntungan semakin kecil,” terangnya.

Sementara itu, Aji Mokoagow salah satu pengemudi bentor mengungkapkan biaya transpor tergantung harga bahan bakar. Ia juga mengungkapkan sampai sekarang belum ada keluhan warga mengenai tarif yang diberlakukan saat ini. “Kan bisanya untuk mengantar penumpang kami harus negosiasi terlebih dahulu. Tentunya, jika harga tidak sesuai kami tidak mau mengantarnya,” tuturnya.

Disisi lain, Kepala Bidang Perhubungan Darat Gafar Ligawa mengatakan, bentor tidak termasuk angkutan penumpang, karena tidak bisa di uji berkala kendaraan bermotor.  “Bentor termasuk sepeda motor yang dimodifikasi, dan tidak layak jalan. Kami tinggal menunggu petunjuk dari Provinsi atau pusat mengenai aturan itu,” ujar Ligawa.

Mengenai angkutan kota, Ligawa mengungkapkan hingga saat ini belum ada trayek Tutuyan-Kotabunan. Ia mengungkapkan sebenarnya beberapa waktu lalu, ada pemilik kendaraan yang menawarkan untuk mengoperasikan trayek tersebut. Namun hingga kini warga tersebut belum balik kembali untuk menindaklanjut permintaannya. “Sebenarnya kami sudah menyetujuinya. Namun warga tersebut tidak datang untuk menindaklanjutinya,” jelasnya.

Diketahui, hingga saat ini angkutan kota yang beroperasi adalah trayek Kotamubagu-Modayag 50 unit dan Nuangan-Kotamubagu 9 unit. “Hampir semua pemilik angkutan adalah warga Kotamubagu. Itupun bukan kewenangan kami sebagai Dishub kabupaten. Sebab sudah antar kabupaten/Kota, izinnya dari provinsi,” tutupnya. (iki/jly)

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.