TPA Regional Dibiayai APBN 2018, 75 Miliar Telah Diusulkan

pasang slot online slot slot gowd

 

MANADO — Pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah regional di Desa Ilo-ilo, Kecamatan Wori, Minut, sudah dipastikan akan dibangun 2018. Satuan Kerja PSPLP Sulut Kementerian PUPR telah mengusulkan anggaran Rp75 miliar di RAPBN 2018 untuk pembangunan tahap pertama.

Kepala Satuan Kerja PSPLP Sulut Abubakar Idrus ST mengatakan tahap perencanaan akan selesai tahun ini, berupa detail engineering design (DED) dan dokumen lingkungan (AMDAL). “Anggaran perencanaannya dibiayai APBD provinsi,” kata Idrus.

Abubakar menegaskan, pembangunan TPA Regional di Ilo-ilo sudah harus dibangun tahun depan, terutama kepentingan untuk menampung produksi sampah di Manado. “Yang paling membutuhkan TPA Regional itu adalah Manado. Yang kita kejar itu anggaran di APBN untuk tahun depan,” katanya.

Dari 30 hektare luas lahan yang disediakan untuk TPA Regional tersebut, katanya, yang akan dibangun tahap pertama sekitar 5 hektare. “Memang sudah harus direalisasikan TPA tersebut, tanpa menunggu pembangunan oleh pihak swasta,” tambahnya.

Bila akan diserahkan ke swasta, jelas Idrus, harus ada perencanaan ulang. “Terutama volume sampahnya apakah memenuhi syarat 1.000 ton per hari untuk kebutuhan produksi listrik,” katanya.

Makanya, untuk saat ini sistem pengelolaan sampah yang memenuhi syarat untuk TPA Regional adalah sanitary landfill, seperti yang sudah dibangun di beberapa kabupaten/kota di Sulut. “Kita kebut dulu kelembagaannnya. Entah nanti dikelola pemerintah, BUMD, atau swasta murni, kelembagaannya harus kuat,” kata Idrus.

PPK Wilayah II Satker PSPLP Sulut Tonny Supit MT menambahkan, TPA yang akan melayani produksi sampah dari daerah Manado, Minahasa, Minahasa Utara, dan Bitung (Mamitarang), itu belum akan dibangun seluruhnya. Sebab, ada kemungkinan nanti pembangunan dan pengelolaannya akan ditangani swasta.

“Namun harus memenuhi syarat-syaratnya, seperti kelayakan ekonomi, keselamatan lingkungan, dan sosialnya,” kata Supit.

Dari sisi ekonomi, misalnya, dipertimbangkan jarak antara sumber sampah dengan TPA tersebut. Bitung, misalnya, nantinya harus ada SPA (Stasiun Penampung Antara) karena jaraknya lebih dari 25 kilometer.

“Kalau Manado mungkin bisa langsung. Tapi Bitung harus ada SPA, yang mungkin seminggu dua kali baru diteruskan ke TPA,” katanya. “Kalau Minahasa dan Minut, sudah pasti tidak semua wilayah sampahnya akan terlayani sampai di TPA Regional karena lumayan luas. Makanya, ada TPA di Airmadidi (Minut) dan TPA Kulo (Minahasa), dan sedang dalam perencanaan di wilayah lain di Minahasa,” tambah Supit.(baz)

 

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.