Woww.. 7 Koperasi di Boltim Ditutup

BOLTIM—Pemerintah harus memperketat pembentukan koperasi di Kabupaten Boltim. Pasalnya, terindikasi pembentukan koperasi hanya untuk mengambil dana bantuan dari pemerintahan. “Sebagian besar koperasi sudah tidak beroperasi. Kemungkinan dibentuk hanya untuk mengambil dana bantuan dari pemerintah,” ungkap sumber resmi koran ini.

Berdasarkan data yang diperoleh Indo Post, dari 99 koperasi di Boltim hanya 21 yang aktif, sisanya sudah tidak diketahui keberadaannya. Sumber mengungkapkan, setelah dana bantuan dari pemerintah cair, uangnya langsung dibagikan kepada anggota kelompok koperasi. “Mereka hanya melaksanakan kegiatan sebatas formalitas saja. Setelah itu, sudah tidak ada aktivitas kelompok namun uangnya sudah habis,” beber sumber.

Hal tersebut diakui Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM ) Akhmad Mulyadi. Ia mengatakan, memang ada sekitar 99 koperasi di Boltim yang terdaftar, tetapi hanya 21 aktif. Katanya yang tidak aktif akan dibubarkan. “Saya dapat surat, semua koperasi yang sudah tidak aktif dibubarkan. Namun saya masih memberikan kelonggaran, dengan memberikan kesempatan untuk lapor ke dinas,” ujar Mulyadi. “Kami akan berusaha, agar semua koperasi baik bergerak di bidang pariwisata, perikanan, Kehutanan, koperasi simpan pinjam, KUD dan lain bisa aktif lagi. Sebab jika semua aktif pasti akan membuka lapangan kerja serta meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar,” terangnya.

Disisi lain, dalam waktu dekat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boltim akan menutup 7 koperasi. Terinformasi koperasi-koperasi ini sudah tidak mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). “Pelaksanaan RAT sangat penting. Sebab maju mundurnya koperasi ada di dalam rapat tersebut. Sejauh ini tujuh koperasi tersebut tidak melaksanakan itu sejak berdiri,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Koperasi dan UKM Djantra Damopolii.

Ketujuh koperasi tersebut yakni KUD Purnama (Molobog), KSU Idaman (Molobog), Koperasi Pariwisata Relly Center (Purwerejo), KPN Bulawan (cabang Diknas Modayang), KPN Bina Karya (cabang Diknas Kotabunan), Kopbun Arabusta sejati (Modayang) dan Kopbun Bukit hijau (Lanut). Menurut Djantra ke tujuh koperasi ini, langsung dipantau oleh Kementerian Koperasi. Sehingga tiap bulan pihaknya membuat laporan mengenai keadaan koperasi baik produktif maupun tidak. “Selama kami melaporkan ke pusat, mereka menilai dan menyurat kembali agar memperhatikan,” terangnya.

Djantra menambahkan, ketujuh koperasi tersebut sudah diberikan surat pemberitahuan sejak Januari lalu. “Jadi kami menerima surat dari Pusat, karena mereka ingin mengetahui keberadaan tujuh koperasi apakah masih aktif atau tidak. Surat tersebut diteruskan ke pengurusnya agar segera melapor. Namun sejauh ini saya belum dapat laporan dari ketujuh koperasi,” kuncinya. (iki/jly)

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.